Langsung ke konten utama

System Design Interview: Antara Persiapan dan Realita

 


Tepat 3 minggu yang lalu, tanggal 2 Januari 2025 adalah pertama kalinya aku system design interview seumur hidup. Aku mempersiapkan diri dengan belajar dari berbagai sumber, seperti video YouTube dari IGotAnOffer, Exponent, HelloInterview, dan banyak lagi. Selain itu, aku mengikuti panduan dari Ashish Pratap di GitHub dan blognya. HelloInterview juga punya blog yang sangat lengkap yang menolongku dalam persiapan interview ini. Semua sumber itu memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana seharusnya alur wawancara system design berjalan secara terstruktur, sistematis, dan ideal. Aku membayangkan prosesnya akan berjalan sesuai pola yang sudah aku pelajari.


Namun, ketika hari H tiba, ekspektasi dan realitas ternyata berbeda. Waktu terasa berjalan begitu cepat, meskipun aku sudah berusaha mengikuti struktur yang diajarkan: memahami kebutuhan, membuat high-level design, hingga menggali lebih dalam ke solusi. Di tengah proses, aku menghadapi hal yang tidak terduga. Interviewerku tidak ingin membahas tentang struktur database. Padahal, menurut pemahamanku, database adalah fondasi untuk memecahkan masalah yang diberikan. Ini sempat membuatku bingung dan sedikit kehilangan arah.


Dari pengalaman ini, aku belajar beberapa hal penting. Pertama, tips yang sering disebutkan di berbagai panduan ternyata benar: selalu ikuti arahan interviewer. System design interview tidak selalu berjalan sesuai kerangka yang kita bayangkan. Menjadi fleksibel sangat penting di sini.


Namun, ada satu hal yang aku pelajari sendiri: meskipun interviewer tidak ingin membahas database secara mendalam, kita tetap perlu mendefinisikan entitas dari desain yang kita buat. Entitas ini sangat penting karena menjadi dasar untuk mengurai solusi dari requirement yang diberikan. Dengan memahami entitas, kita bisa lebih mudah mengaitkan solusi desain dengan kebutuhan yang diminta, meskipun pembahasan database tidak diutamakan.


Contoh dari interview itu, saya diminta membuat desain money transfer system antar cabang bank. Maka entitasnya adalah account number, branch number, amount, transaction. Tanpa definisi entitas, kita akan kehilangan kerangka penyelesaian masalah.


Pengalaman pertama ini mengajarkan bahwa persiapan memang penting, tapi kemampuan untuk beradaptasi selama interview adalah kunci utama. It’s okay jika wawancara tidak berjalan ideal sesuai ekspektasi, karena yang lebih penting adalah bagaimana kita tetap fokus pada kebutuhan yang diminta dan solusi yang relevan. Ini adalah pengalaman pertama, dan saya cukup yakin akan ada interview-interview lain di masa depan. Harusnya kalau aku berkesempatan system design interview lagi kedepannya aku akan lebih siap ya😄


Day 3 of 99


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Pernah Mendahului Nasib

Jangan pernah mendahului nasib --Arai, Sang Pemimpi Liburan ini, saya sempat membaca Sang Pemimpi setelah sebelumnya saya sudah menamatkan Laskar Pelangi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Entah karena saya baru saja membacanya atau buku ini benar-benar bagus, saya menganggap bahwa buku ini lebih baik daripada ketiga buku lainnya. Saya benar-benar terinspirasi. Oleh Arai, khususnya. Jangan pernah mendahului nasib. Menurut saya itu berarti jangan pernah berpikir negatif dalam melakukan sesuatu sebelum kita melakukan SELURUH hal-hal positif untuk memperjuangkannya. Usaha yang kita lakukan harus maksimal, jangan takut untuk lelah, berkorban waktu, materi, bahkan darah dan jiwa untuk sesuatu yang kita perjuangkan. Dalam berusaha, hendaknya kita selalu berpikir luas ke depan bahwa kita yakin pada akhirnya kita akan berkata, "We did it!". Itulah optimisme. Optimis berarti yakin. Optimis bukan keyakinan yang tanpa “modal” alias nekad, akan tetapi keyakinan karena persiapan yang t...

Miftah Sesemester Lalu

Terhitung sudah tiga semester saya menginjakkan kaki di UI dan sekarang, ketika saya sedang berada di kampung tercinta, kota Payakumbuh, keluarga banyak yang bilang,"Sudah semester 4? Wah, tidak terasa ya." Waktu terasa menyambar bagaikan kilat, ternyata sudah lewat saja. Sulit untuk melukiskan apa saja yang terjadi pada semester tiga. Jika dipilih semester mana yang lebih berkesan di antara semester satu, dua, dan tiga saya akan menjawab semester tiga. Mengapa? Di semester ini saya semakin banyak mendapatkan -bahasanya 'pelajaran-pelajaran hidup' kata orang. Timeline-nya kira-kira begini: PMB--bulan Ramadhan--FUKI Fair--UAS Aneh ya. Kenapa kata "kuliah" tidak dimasukkan. Dari dulu, saya orangnya tidak biasa sibuk. Semasa TK, SD, SMP, SMA biasa saja. TK dan SD belajar saja. SMP sudah ada organisasi sedikit, maksudnya benar-benar sedikit karena SMP saya merupakan SMP baru yang belum jalan organisasinya. SMA, organisasinya sudah jalan tapi entah kenapa...

PKM Cerdas Bertelevisi

Perjalanan kami dimulai Oktober tahun lalu. Saat itu ide kita masih kocar-kacir.. Sempat ada ide tentang Business School untuk anak-anak jalanan. Ada lagi ide Pelatihan Mengenal Global Warming buat anak-anak. Ternyata, ide-ide di atas semuanya tidak feasible dan kami tidak ada yang yakin dengan ide tersebut. Akhirnya, Bu Ami pembimbing kami memberikan ide. Jadilah dia PKM kita berjudul CERDAS BERTELEVISI: MEMBEKALI ORANG TUA DENGAN KEMAMPUAN MEMILIH TAYANGAN YANG TEPAT UNTUK ANAK-ANAK. Terima kasih, Bu Ami :) Sekilas info, PKM kependekan dari Program Kreativitas Mahasiswa. PKM ini dibiayai oleh DP2M Ditjen  DIKTI (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) bagi ide-ide yang terpilih. Ada 6 Jenis PKM untuk tahun 2010: PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), dan PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Karya Tulis (PKM-KT). Di dalam PKM-KT terkandung PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan PKM-Gagasan Tertulis(PKM-GT). ...