Langsung ke konten utama

Review Buku How to Be a Perfect Working Mother: Perspektif Working Mom yang Ingin Seimbang

 


Dalam review buku How to Be a Perfect Working Mother ini, aku ingin membagikan perspektif sebagai seorang working mom yang sedang belajar menyeimbangkan karier dan keluarga. Buku ini awalnya kubeli tanpa ekspektasi besar, tapi ternyata justru membuka sudut pandang baru tentang target, batasan, dan cara menjalani peran tanpa harus menjadi sempurna.

Tentang Buku Ini

Sejujurnya, dari baca judulnya saja aku sudah tersugesti dugaan negatif macam-macam. Tersentil sama kata “perfect”, tepatnya. Haruskah kita, seorang ibu yang juga bekerja, dituntut menjadi sempurna?
Tapi justru karena judulnya bikin resah, aku jadi penasaran. Buku ini awalnya cuma pelengkap biar dapat gratis ongkir atau diskon tertentu. Bukan buku utama yang ingin kubeli waktu itu. Harganya juga murah banget, 30 ribuan.
Namun, baru baca satu bab, semua dugaan awalku langsung terpatahkan.

Apa yang Membuat Buku Ini Berbeda

This book is your friend, moms.

Alih-alih menghakimi, buku ini terasa sangat memahami tantangan yang dihadapi para working mothers. Diawali dengan kisah para ibu bekerja dari berbagai industri, dengan masalah dan dinamika yang berbeda-beda. Baru sampai situ saja, aku sudah merasa, “wah… ternyata aku tidak sendirian di perjalanan ini.”

Buku ini pelan-pelan menuntun kita mengelola banyak hal sekaligus: delegasi, waktu, uang, emosi, kesehatan, target dan batasan, sampai rasa cinta. Yang aku suka, buku ini tidak berhenti di teori atau hasil riset semata. Tapi benar-benar praktis. Langkah-langkahnya sederhana dan terasa membumi. Bahkan cukup dengan selembar kertas dan alat tulis.

Bab yang Paling Mengena: Target dan Batasan

Bab yang langsung menarik hatiku adalah bab tentang target dan batasan. Di sini kita diajak mengingat kembali hal-hal yang dulu pernah jadi impian kita. Lalu perlahan menyusunnya lagi, sampai ke rencana yang bisa benar-benar dijalankan. Bab ini seperti mengingatkan bahwa, sebagai ibu, kita tetap berhak bermimpi.

Kesimpulan

Aku tidak menyangka buku yang kubeli sambil lalu justru jadi buku yang paling terasa relatable. Mungkin karena ia tidak mengajarkan cara menjadi ibu sempurna, tapi mengajarkan cara tetap waras, berdaya, dan punya arah, di tengah semua peran yang kita jalani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Miftah Sesemester Lalu

Terhitung sudah tiga semester saya menginjakkan kaki di UI dan sekarang, ketika saya sedang berada di kampung tercinta, kota Payakumbuh, keluarga banyak yang bilang,"Sudah semester 4? Wah, tidak terasa ya." Waktu terasa menyambar bagaikan kilat, ternyata sudah lewat saja. Sulit untuk melukiskan apa saja yang terjadi pada semester tiga. Jika dipilih semester mana yang lebih berkesan di antara semester satu, dua, dan tiga saya akan menjawab semester tiga. Mengapa? Di semester ini saya semakin banyak mendapatkan -bahasanya 'pelajaran-pelajaran hidup' kata orang. Timeline-nya kira-kira begini: PMB--bulan Ramadhan--FUKI Fair--UAS Aneh ya. Kenapa kata "kuliah" tidak dimasukkan. Dari dulu, saya orangnya tidak biasa sibuk. Semasa TK, SD, SMP, SMA biasa saja. TK dan SD belajar saja. SMP sudah ada organisasi sedikit, maksudnya benar-benar sedikit karena SMP saya merupakan SMP baru yang belum jalan organisasinya. SMA, organisasinya sudah jalan tapi entah kenapa...

PKM Cerdas Bertelevisi

Perjalanan kami dimulai Oktober tahun lalu. Saat itu ide kita masih kocar-kacir.. Sempat ada ide tentang Business School untuk anak-anak jalanan. Ada lagi ide Pelatihan Mengenal Global Warming buat anak-anak. Ternyata, ide-ide di atas semuanya tidak feasible dan kami tidak ada yang yakin dengan ide tersebut. Akhirnya, Bu Ami pembimbing kami memberikan ide. Jadilah dia PKM kita berjudul CERDAS BERTELEVISI: MEMBEKALI ORANG TUA DENGAN KEMAMPUAN MEMILIH TAYANGAN YANG TEPAT UNTUK ANAK-ANAK. Terima kasih, Bu Ami :) Sekilas info, PKM kependekan dari Program Kreativitas Mahasiswa. PKM ini dibiayai oleh DP2M Ditjen  DIKTI (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) bagi ide-ide yang terpilih. Ada 6 Jenis PKM untuk tahun 2010: PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), dan PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Karya Tulis (PKM-KT). Di dalam PKM-KT terkandung PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan PKM-Gagasan Tertulis(PKM-GT). ...

Jangan Pernah Mendahului Nasib

Jangan pernah mendahului nasib --Arai, Sang Pemimpi Liburan ini, saya sempat membaca Sang Pemimpi setelah sebelumnya saya sudah menamatkan Laskar Pelangi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Entah karena saya baru saja membacanya atau buku ini benar-benar bagus, saya menganggap bahwa buku ini lebih baik daripada ketiga buku lainnya. Saya benar-benar terinspirasi. Oleh Arai, khususnya. Jangan pernah mendahului nasib. Menurut saya itu berarti jangan pernah berpikir negatif dalam melakukan sesuatu sebelum kita melakukan SELURUH hal-hal positif untuk memperjuangkannya. Usaha yang kita lakukan harus maksimal, jangan takut untuk lelah, berkorban waktu, materi, bahkan darah dan jiwa untuk sesuatu yang kita perjuangkan. Dalam berusaha, hendaknya kita selalu berpikir luas ke depan bahwa kita yakin pada akhirnya kita akan berkata, "We did it!". Itulah optimisme. Optimis berarti yakin. Optimis bukan keyakinan yang tanpa “modal” alias nekad, akan tetapi keyakinan karena persiapan yang t...