Langsung ke konten utama

Pertimbangkan Dampak, Tak Sekadar Manfaat

03 April 2011
PEMBERITAAN mengenai penghapusan trayek bus kota beberapa waktu terakhir ini memang mengkhawatirkan. Diberitakan bahwa Dinas Perhubungan DKI menghapus sembilan trayek bus kota yang bersinggungan dengan busway Koridor IX. Kebijakan ini ditetapkan dengan tujuan mengurangi kepadatan lalu lintas yang bersinggungan dengan koridor busway tersebut.

Penerapan kebijakan penghapusan ini bersangkut-paut dengan banyak pihak. Pemilik bus kota, supir, kondektur, masyarakat pengguna bus kota, dan pemerintah. Dalam kacamata pemerintah, kebijakan ini berupaya menciptakan arus kendaraan yang lebih teratur. Solusi ini diharapkan akan membuat kondisi jalan yang lapang sehingga kemacetan lebih dapat dihindari. Namun, sepertinya kebijakan ini membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat.

Penumpang bus kota yang menuju suatu tempat yang tidak dilewati busway akan mengalami kesulitan mencari kendaraan. Keterbatasan jam operasi busway pun membuat penumpang tidak selalu dapat menikmati fasilitas busway. Selanjutnya, pemilik bus kota juga mengalami beberapa masalah.

Hal pertama yang ada di benak mereka pastilah mengenai kelangsungan mata pencarian. Realita berkata bahwa bus kota menyediakan lahan pekerjaan untuk para supir, kondektur, juga pedagang asongan dan pengamen.

Dapat dibayangkan berapa banyak orang yang akan kehilangan pekerjaannya. Masalah lainnya berkenaan dengan bus-bus yang selama ini dipakai untuk mengangkut penumpang. Kemanakah bus-bus itu akan ditempatkan? Jika tidak digunakan kembali, nasib bus-bus tersebut bisa jadi berakhir di tempat rongsokan besi-besi tua.

Jika diuraikan lebih panjang lagi, akan muncul lebih banyak nama yang dirugikan. Sebagai masyarakat yang apresiatif terhadap upaya pemerintah, kebijakan ini patut dihargai untuk mencapai situasi transportasi yang lebih nyaman.

Namun, sungguh tidak tepat menguntungkan satu aspek dan merugikan banyak aspek lainnya. Berharap transportasi yang baik, tetapi tidak mempertimbangkan pengguna, pencipta dan berbagai subjek yang terkait dengan transportasi itu. Hendaknya di masa yang akan datang pemerintah melakukan langkah-langkah preventif terlebih dahulu sebelum menerapkan sebuah kebijakan. Langkah-langkah preventif ini tidak lain bertujuan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan kebijakan baru tersebut.

Ada di sini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Pernah Mendahului Nasib

Jangan pernah mendahului nasib --Arai, Sang Pemimpi Liburan ini, saya sempat membaca Sang Pemimpi setelah sebelumnya saya sudah menamatkan Laskar Pelangi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Entah karena saya baru saja membacanya atau buku ini benar-benar bagus, saya menganggap bahwa buku ini lebih baik daripada ketiga buku lainnya. Saya benar-benar terinspirasi. Oleh Arai, khususnya. Jangan pernah mendahului nasib. Menurut saya itu berarti jangan pernah berpikir negatif dalam melakukan sesuatu sebelum kita melakukan SELURUH hal-hal positif untuk memperjuangkannya. Usaha yang kita lakukan harus maksimal, jangan takut untuk lelah, berkorban waktu, materi, bahkan darah dan jiwa untuk sesuatu yang kita perjuangkan. Dalam berusaha, hendaknya kita selalu berpikir luas ke depan bahwa kita yakin pada akhirnya kita akan berkata, "We did it!". Itulah optimisme. Optimis berarti yakin. Optimis bukan keyakinan yang tanpa “modal” alias nekad, akan tetapi keyakinan karena persiapan yang t...

Miftah Sesemester Lalu

Terhitung sudah tiga semester saya menginjakkan kaki di UI dan sekarang, ketika saya sedang berada di kampung tercinta, kota Payakumbuh, keluarga banyak yang bilang,"Sudah semester 4? Wah, tidak terasa ya." Waktu terasa menyambar bagaikan kilat, ternyata sudah lewat saja. Sulit untuk melukiskan apa saja yang terjadi pada semester tiga. Jika dipilih semester mana yang lebih berkesan di antara semester satu, dua, dan tiga saya akan menjawab semester tiga. Mengapa? Di semester ini saya semakin banyak mendapatkan -bahasanya 'pelajaran-pelajaran hidup' kata orang. Timeline-nya kira-kira begini: PMB--bulan Ramadhan--FUKI Fair--UAS Aneh ya. Kenapa kata "kuliah" tidak dimasukkan. Dari dulu, saya orangnya tidak biasa sibuk. Semasa TK, SD, SMP, SMA biasa saja. TK dan SD belajar saja. SMP sudah ada organisasi sedikit, maksudnya benar-benar sedikit karena SMP saya merupakan SMP baru yang belum jalan organisasinya. SMA, organisasinya sudah jalan tapi entah kenapa...

PKM Cerdas Bertelevisi

Perjalanan kami dimulai Oktober tahun lalu. Saat itu ide kita masih kocar-kacir.. Sempat ada ide tentang Business School untuk anak-anak jalanan. Ada lagi ide Pelatihan Mengenal Global Warming buat anak-anak. Ternyata, ide-ide di atas semuanya tidak feasible dan kami tidak ada yang yakin dengan ide tersebut. Akhirnya, Bu Ami pembimbing kami memberikan ide. Jadilah dia PKM kita berjudul CERDAS BERTELEVISI: MEMBEKALI ORANG TUA DENGAN KEMAMPUAN MEMILIH TAYANGAN YANG TEPAT UNTUK ANAK-ANAK. Terima kasih, Bu Ami :) Sekilas info, PKM kependekan dari Program Kreativitas Mahasiswa. PKM ini dibiayai oleh DP2M Ditjen  DIKTI (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi) bagi ide-ide yang terpilih. Ada 6 Jenis PKM untuk tahun 2010: PKM-Penelitian (PKM-P), PKM-Penerapan Teknologi (PKM-T), PKM-Kewirausahaan (PKM-K), dan PKM-Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dan PKM-Karya Tulis (PKM-KT). Di dalam PKM-KT terkandung PKM-Artikel Ilmiah (PKM-AI) dan PKM-Gagasan Tertulis(PKM-GT). ...